Category Archives: Berita Pucen

Pengamat: Kelompok rentan perlu perhatian dalam adaptasi normal baru

Jakarta (ANTARA) – Kelompok rentan perlu menjadi perhatian dalam adaptasi normal baru yang dilakukan untuk hidup di saat pandemi COVID-19 masih berlangsung, kata Dr. Puji Pujiono, MSW dari Sekretariat Jaringan antar-Jaringan OSM/LSM (S=JAJAR).

“Mereka biasanya tidak masuk dalam ekonomi mainstream dan mereka tergantung pada sektor informal dan mereka menjadi anggota dari masyarakat yang secara kolektif kalau terjadi krisis merasakan dampaknya lebih berat dan awal dari yang lainnya,” kata dia dalam diskusi tentang normal baru yang diadakan oleh AJI Indonesia di Jakarta, Rabu.

Ilustrasi – Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, melakukan aksi sosial terhadap warga lansia, difabel dan warga kurang mampu di Desa Banyuseri, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali (1/6/2020), saat pandemi COVID-19 membuat masyarakat semakin susah. ANTARA/Made Adnyana/am.

Kelompok rentan, kata pakar manajemen bencana dari Pujiono Centre itu, seperti orang dari kelompok disabilitas, lansia, yang berbeda orientasi seksualnya, pengungsi bencana alam dan masyarakat dari suku yang tinggal di pedalaman.

Selain itu, masyarakat prasejahtera yang tinggal di dalam lingkungan kumuh itu juga merupakan bagian dari kelompok rentan. Menurut dia, banyak dari mereka yang tidak mampu menjalankan seluruh protokol kesehatan yang diimbau oleh pemerintah, seperti menjaga jarak, karena kondisi tempat tinggal tidak memungkinkan.

Selain itu, masyarakat dari kelompok rentan tersebut biasanya memiliki akses tidak memadai ke layanan sosial, adanya keterbatasan kemampuan untuk beradaptasi dan terbatas atau bahkan tidak mempunyai akses ke teknologi.

“Karena keterbatasan dan keterpinggiran itu mereka juga mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan new normal (normal baru) yang disebutkan pemerintah,” kata dia.

Untuk melindungi mereka dalam adaptasi normal baru, kelompok rentan itu perlu digandeng agar ikut serta dalam perencanaan, pemberlakuan dan evaluasi berbagai langkah yang diambil pemerintah baik pusat maupun daerah sampai ke tingkat desa.

Selain itu, perlu diperluas akses terhadap proses dan layanan publik untuk anggota kelompok tersebut, kata Puji.

Sumber: Antaranews.com

The Australasian Aid Conference 2020

17-19 February at Crawford School of Public Policy, ANU


The Aid Conference, held in February of each year has become an integral part of the Australian and regional aid calendar. The aim of the conference is to bring together researchers from across Australia, the Pacific, Asia, and beyond who are working on aid and international development policy to share insights, promote collaboration, and help develop the research community.

PANEL 4B – Still broken. Global humanitarian reform and the Asia Pacific. Wednesday, 19 February 2020, 11.00am to 12.30pm, Weston Theatre

The global international humanitarian system is struggling to deliver the transformative change required to best meet the needs of the most vulnerable impacted by crises. This is despite best efforts to act on agreed changes through the Agenda for Humanity and Grand Bargain. This panel will discuss how to action transformative change in ways that are most relevant to the Asia-Pacific region, including a unique approach to country-led humanitarian reform. It brings together the latest thinking from the Australian Government, Indonesia-based Pujiono Centre, Australian Red Cross and Humanitarian Advisory Group.


Chair:
Jo-Hannah Lavey, Executive, Humanitarian Advisory Group

Panellists:

  • Rachael Moore, Director, Protracted Crises Section, DFAT
  • Dr Puji Pujiono, Founder and Senior Adviser, Pujiono Centre
  • Louise McCosker, Humanitarian Diplomacy Lead, International Programs, Australian Red Cross

 

  

The Australasian Aid Conference 2020

Pelokalan pada Tanggapan Kemanusiaan di Sulawesi Tengah

Penerbitan ini adalah suatu himpunan dari beberapa ikhtisar yang disumbangkan oleh lembaga-lembaga yang melaksanakan pengkajian tentang praktik baik yang diperoleh dari pelokalan bantuan kemanusiaan di Sulawesi Tengah. Tulisan-tulisan ini sudah disampaikan pada berbagai lokakarya, antara lain: lokakarya OMS pelaku bantuan kemanusiaan pada tingkat akar rumput di Palu, lokakarya OMS nasional, pertemuan diantara lembaga pelaku pengkajian pelokalan, dan suatu diskusi meja bundar antar lembaga yang terlaksana dengan dukungan bersama oleh UN OCHA, CARE, Cordaid, ERCB, dan Pujiono Centre.

——————————————————————————————————————–

This publication is compilation of briefing papers prepared by agencies that conducted studies, of obtained good practices, on localization of aid in Central Sulawesi. The papers have been delivered in a series of workshops including a Central Sulawesi local CSOs’workshop, national CSOs workshop, meeting among agencies conducted localisation studies, an interagency roundtable, which have been organized with the joint support of UN OCHA, CARE, Cordaid, ERCB and Pujiono Centre.

Download Booklet (pdf)

Laporan Kajian: “Memetakan Norma Baru? Kepemimpinan Lokal Pada 100 Hari Pertama Dalam Tanggap Darurat Gempabumi di Sulawesi”

Dengan gembira kami menyampaikan laporan kajian: “Memetakan Norma Baru? Kepemimpinan Lokal Pada 100 Hari Pertama Dalam Tanggap Darurat Gempabumi di Sulawesi” yang diluncurkan bersama oleh Humanitarian Policy Group dan The Pujiono Centre

Laporan kajian ini menyajikan suatu analisis cepat tentang tanggapan bencana gempabumi berkekuatan 7.4 yang disusul tsunami di Sulawesi pada tanggal 28 September. Laporan ini memuat temuan bahwa pemberdayaan pelaku lokal dalam penyampaian bantuan kemanusiaan merupakan suatu norma baru yang tumbuh di kawasan Asia Pasifik. Sekarang pemerintah-pemerintah di kawasan ini semakin memilih untuk menetapkan sendiri agenda pemberdayaan pelaku lokal di negara masing-masing, dan organisasi-organisasi nasional dan lokal melaksanakan peran-peran yang semakin menonjol, sedangkan para pelaku internasional terpaksa menepi dan mempertimbangkan kembali peran tradisional kemanusiaan mereka.

Tanggapan darurat di Sulawesi membawa kita lebih dekat kearah pemahaman terhadap baru ini, dan memberikan pelajaran tentang bagaimana para pelaku kemanusiaan perlu menyesuaikan diri. Sebagai suatu kegiatan kolaboratif, pengkajian ini mencermati sudut pandang dari berbagai pelaku baik internasional, nasional dan lokal, untuk menangkap pelajaran ini dan implikasinya untuk tanggapan darurat berikutnya di kawasan ini.

Kami mengucapkan terima kasih atas sumbangsih Bapak/Ibu yang sangat berharga dalam pelaksanaan kajian cepat ini dan kami persilakan untuk menyampaikan pertanyaan atau komentar tentang laporan ini dengan mengirim email ke sshevach@hag.org.au dan jlees@hag.org.au; atau d.yulianti@gmail.com dan puji.pujiono@gmail.com.

Kami berharap peluncuran ini akan diikuti oleh pembahasan yang berkesinambungan dan berbagai peluang untuk mensosialisasikan lebih jauh pekerjaan yang menarik ini. Kami persilakan Bapak/Ibu untuk berbagi laporan kajian ini pada jaringan – jaringan yang ada.

————————————————-

We are excited to share with you the final report: ‘Charting the New Norm? Local Leadership in the First 100 Days of the Sulawesi Earthquake Response’, launched by Humanitarian Policy Group and the Pujiono Centre today.

This practice paper provides a rapid analysis of the disaster response following the September 28th 7.4 magnitude earthquake tsunami in Sulawesi. The paper found that localisation of humanitarian aid is an emerging new norm in the Asia-Pacific region. Now that national governments are increasingly setting their own localisation agendas, and national and local organisations assume more prominent roles, international actors are forced to step to the side and reconsider their traditional humanitarian roles. 

The Sulawesi response takes us closer to understanding this new norm and provides lessons for how humanitarian actors need to adapt. As a collaborative project, drawing on the insights of a variety of international, national and local actors, this paper aims to capture these lessons and the implications for future responses in this region.

We would like to sincerely thank you for your valuable contributions to the rapid analysis and invite you to get in touch with any queries or comments on the report, emailing sshevach@hag.org.au and jlees@hag.org.au

We look forward to ongoing dialogue and opportunities to further socialise this exciting piece of work. Please feel free to share widely with your networks.

——

For the English version please click here https://bit.ly/2Fjccqp
Untuk versi Bahasa silakan ikuti tautan ini https://bit.ly/2JOH5bD

Pujiono Centre membangun kerjasama dengan STISIP Yogyakarta

Yogyakarta, 29 September 2018– Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Kartika Bangsa Yogyakarta kembali mengantarkan 98 sarjana Ilmu Administrasi Negara dan 22 sarjana Sosiologi. Upacara wisuda periode ke-32 itu dilangsungkan di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama, Yogyakarta, Sabtu (29/9/2018).

Rahmat Suryanto, Ketua Yayasan Pendidikan Kartika Bangsa, menggarisbawahi arah visi STISIP “Kami bertekad untuk terus berkontribusi secara signifikan dalam membentuk kompetensi sumberdaya profesional baik untuk menjadi abdi negara maupun praktisi profesional administrasi publik lainnya”

Sejak didirikan pada tahun 1980-an, dan sekarang mempunyai hampir 700 mahasiswa dari seluruh Indonesia, STISIP membuktikan diri sebagai kampus pilihan para karyawan untuk meningkatkan kualifikasi, terutama mereka yang berada pada jenjang mid-career.

The Pujiono Centre hadir dalam acara istimewa ini. Dalam orasi ilmiahnya, Dr. Puji Pujiono, MSW., Senior Advisor The Pujiono Centre, membahas pentingnya retrofitting pada birokrasi dalam “Making Indonesia 4.0” yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. “Praktisi dan pakar Administrasi Publik perlu paradigma baru untuk menerjemahkan visi tersebut menjadi manfaat bagi bangsa dan mengendalikan ekses dari Revolusi Industri Keempat”

pucen_stisip_1

Hari ini juga dilakukan penandatangan MoU antara Pujiono Centre dan STISIP sebagai penanda pendirian Pusat studi Administrasi Penanggulangan Bencana di STISIP.

pucen_stisip_3

Ketua STISIP Kartika Bangsa,  Djuniawan Karna Djaja berharap agar para wisudawan menjadi anggota masyarakat profesional yang menghasilkan terobosan-terobosan inovatif untuk mentransformasikan tantangan dan masalah menjadi keberhasilan pembangunan. ”Kami memberikan dosis yang seimbang antara ilmu pengetahuan melalui pengajaran, peningkatan kemampuan analitik melalui penelitian, dan dedikasi serta sikap kebangsaan melalui pengabdian masyarakat” tambahnya.

Menyikapi banyaknya kejadian bencana akhir-akhir ini, STISIP Kartika Bangsa sedang mengkaji prospek untuk mengembangkan kompetensi pengadministrasian penanggulangan bencana sebagai urusan pemerintahan wajib terkait pelayanan dasar sebagaimana  UU No. 23/2014 tentang pemerintahan daerah. Kedepan, STISIP juga menyasar akreditasi kategori-B baik untuk program-program studi maupun institusinya, perluasan infrastruktur fisik unutk mengakomodasi peningkatan jumlah mahasiswa, dan mencapai SNI ISO 9001:2008 sebagai standar jasa administrasinya, Djuniawan menambahkan.

Disclaimer: Berita ini diambil dan dikembangkan dari teks press briefing milik STISIP.