Tag Archives: Humanitarian

Turning the Grand Bargain Upside Down: Views from Indonesia

Past humanitarian reform agendas have continually emphasised the need for humanitarian response to be locally owned. But for two decades, attempts to systematically elevate the representation, participation, and power of local actors have fallen short; donor governments still have an incentive to channel their funding through large international organizations. Continue reading

Pelokalan pada Tanggapan Kemanusiaan di Sulawesi Tengah

Penerbitan ini adalah suatu himpunan dari beberapa ikhtisar yang disumbangkan oleh lembaga-lembaga yang melaksanakan pengkajian tentang praktik baik yang diperoleh dari pelokalan bantuan kemanusiaan di Sulawesi Tengah. Tulisan-tulisan ini sudah disampaikan pada berbagai lokakarya, antara lain: lokakarya OMS pelaku bantuan kemanusiaan pada tingkat akar rumput di Palu, lokakarya OMS nasional, pertemuan diantara lembaga pelaku pengkajian pelokalan, dan suatu diskusi meja bundar antar lembaga yang terlaksana dengan dukungan bersama oleh UN OCHA, CARE, Cordaid, ERCB, dan Pujiono Centre.

——————————————————————————————————————–

This publication is compilation of briefing papers prepared by agencies that conducted studies, of obtained good practices, on localization of aid in Central Sulawesi. The papers have been delivered in a series of workshops including a Central Sulawesi local CSOs’workshop, national CSOs workshop, meeting among agencies conducted localisation studies, an interagency roundtable, which have been organized with the joint support of UN OCHA, CARE, Cordaid, ERCB and Pujiono Centre.

Download Booklet (pdf)

Laporan Kajian: “Memetakan Norma Baru? Kepemimpinan Lokal Pada 100 Hari Pertama Dalam Tanggap Darurat Gempabumi di Sulawesi”

Dengan gembira kami menyampaikan laporan kajian: “Memetakan Norma Baru? Kepemimpinan Lokal Pada 100 Hari Pertama Dalam Tanggap Darurat Gempabumi di Sulawesi” yang diluncurkan bersama oleh Humanitarian Policy Group dan The Pujiono Centre

Laporan kajian ini menyajikan suatu analisis cepat tentang tanggapan bencana gempabumi berkekuatan 7.4 yang disusul tsunami di Sulawesi pada tanggal 28 September. Laporan ini memuat temuan bahwa pemberdayaan pelaku lokal dalam penyampaian bantuan kemanusiaan merupakan suatu norma baru yang tumbuh di kawasan Asia Pasifik. Sekarang pemerintah-pemerintah di kawasan ini semakin memilih untuk menetapkan sendiri agenda pemberdayaan pelaku lokal di negara masing-masing, dan organisasi-organisasi nasional dan lokal melaksanakan peran-peran yang semakin menonjol, sedangkan para pelaku internasional terpaksa menepi dan mempertimbangkan kembali peran tradisional kemanusiaan mereka.

Tanggapan darurat di Sulawesi membawa kita lebih dekat kearah pemahaman terhadap baru ini, dan memberikan pelajaran tentang bagaimana para pelaku kemanusiaan perlu menyesuaikan diri. Sebagai suatu kegiatan kolaboratif, pengkajian ini mencermati sudut pandang dari berbagai pelaku baik internasional, nasional dan lokal, untuk menangkap pelajaran ini dan implikasinya untuk tanggapan darurat berikutnya di kawasan ini.

Kami mengucapkan terima kasih atas sumbangsih Bapak/Ibu yang sangat berharga dalam pelaksanaan kajian cepat ini dan kami persilakan untuk menyampaikan pertanyaan atau komentar tentang laporan ini dengan mengirim email ke sshevach@hag.org.au dan jlees@hag.org.au; atau d.yulianti@gmail.com dan puji.pujiono@gmail.com.

Kami berharap peluncuran ini akan diikuti oleh pembahasan yang berkesinambungan dan berbagai peluang untuk mensosialisasikan lebih jauh pekerjaan yang menarik ini. Kami persilakan Bapak/Ibu untuk berbagi laporan kajian ini pada jaringan – jaringan yang ada.

————————————————-

We are excited to share with you the final report:¬†‚ÄėCharting the New Norm? Local Leadership in the First 100 Days of the Sulawesi Earthquake Response‚Äô,¬†launched by Humanitarian Policy Group and the Pujiono Centre today.

This practice paper provides a rapid analysis of the disaster response following the September 28th 7.4 magnitude earthquake tsunami in Sulawesi. The paper found that localisation of humanitarian aid is an emerging new norm in the Asia-Pacific region. Now that national governments are increasingly setting their own localisation agendas, and national and local organisations assume more prominent roles, international actors are forced to step to the side and reconsider their traditional humanitarian roles. 

The Sulawesi response takes us closer to understanding this new norm and provides lessons for how humanitarian actors need to adapt. As a collaborative project, drawing on the insights of a variety of international, national and local actors, this paper aims to capture these lessons and the implications for future responses in this region.

We would like to sincerely thank you for your valuable contributions to the rapid analysis and invite you to get in touch with any queries or comments on the report, emailing sshevach@hag.org.au and jlees@hag.org.au

We look forward to ongoing dialogue and opportunities to further socialise this exciting piece of work. Please feel free to share widely with your networks.

——

For the English version please click here https://bit.ly/2Fjccqp. 
Untuk versi Bahasa silakan ikuti tautan ini https://bit.ly/2JOH5bD

Panduan untuk Pekerja dan Relawan Kemanusiaan

Selamat pagi! Dalam beberapa hari lagi, progam penanganan bencana Gempa Lombok akan genap berjalan selama 2 bulan. Selama 2 bulan ini, telah terdata lebih dari 560 orang meninggal, hampir 150,000 rumah rusak, dan lebih dari 750,000 jiwa mengungsi. Tercatat pula lebih dari 3,400 relawan/ pekerja kemanusiaan dan 340 organisasi yang terlibat.

Kami memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya terhadap para relawan/ pekerja kemanusiaan yang sudah berkerja keras dan berjuang untuk membantu warga yang terkena dampak gempa. Ancaman gempa susulan, longsor, tsunami, dan juga musim hujan dan penyakit malaria adalah hal-hal yang tetap perlu diantisipasi pada saat menjalankan program penanganan bencana.

Praktik umum di beberapa lembaga adalah adanya pembatasan waktu kerja untuk setiap pekerja kemanusiaan antara lain 2-4 minggu bekerja lalu dilanjuti dengan masa 1 minggu untuk istirahat. Oleh karena itu, untuk rekan-rekan yang masih bertugas, kami himbau untuk tetap menjaga kondisi dan saling mengawasi kondisi fisik dan mental.

Untuk membantu rekan-rekan pekerja dan relawan kemanusiaan, Tim PREDIKT bekerja sama dengan Pujiono Centre, PULIH, dan Pusat Krisis FPsi UI menyusun panduan ini, yang dapat menjadi acuan untuk rekan-rekan dalam masa persiapan, saat penugasan, serta setelah penugasan.

Apabila ada kendala, rekan-rekan bisa berkoordinasi dengan Pos Komando Satuan Tugas Gabungan Terpadu dan jangan lupa, saat sesudah penugasan, lapor kembali ke Rumah Relawan di Posko saat akan berangkat DAN saat tiba di tujuan pemulangan, yang bisa dihubungi di 08111033102 atau 081374557789.

Cek panduannya disini