Category Archives: Berita Pucen

[Live] Agenda Pelokalan Bantuan Kemanusiaan pada Masa dan Pascapandemi

Semidaring ke-25 SEJAJAR: Agenda Pelokalan Bantuan Kemanusiaan pada Masa dan Pascapandemi

Agenda Pelokalan Bantuan Kemanusiaan, sejak ditetapkan pada World Humanitarian Summit 2016, membawa perubahan pada lansekap Kemanusiaan di dunia, dimana peran dan sumbangsih para pelaku lokal menjadi sangat signifikan, sementara para pelaku internasional lebih banyak menepi dan hanya memberikan sokongan ketika diperlukan. Dengan adanya COVID-19, OMS-LSM dan komunitas lokal menjadi perespon kemanusiaan di garis depan dan memanggul tanggung jawab yang luar biasa berat, sementara para pelaku internasional kewalahan menanggapi COVID-19 di negara dan kawasan masing-masing.

SEJAJAR menggelar Semidaring ke-25 sebagai platform untuk berdiskusi dan mengkaji perubahan lansekap arsitektur kemanusiaan di Indonesia dan nasib agenda Pelokalan di masa dan pascapandemi COVID-19.

Pemantik Diskusi:
1. Chasan Ascholani, Pemerhati Isu Pelokalan, Konsultan Global Mentoring Initiative
2. Zela Septikasari, Tim DEC Localization Study, Pujiono Centre

Narasumber:
1. Syafrimet Aziz, Jemari Sakato, Jejaring Mitra Kemanusiaan
2. Dini Widiastuti, Executive Director, Yayasan Plan Internasional Indonesia
3. Yenni Suryani, Country Director, Catholic Relief Service
4. Maria Lauranti, Country Director, Oxfam in Indonesia
5. Dino Satria, Humanitarian Director, Save the Children Indonesia
6. Agus Triwahyuono, Network Partnership Coordinator, Yayasan CARE Peduli

Moderator:
Dr. Puji Pujiono, MSW, Senior Adviser, Pujiono Centre

[Live] #RealLifeHeroes di Garis Terdepan Penanganan COVID-19

Semidaring Sejajar ke-24 Hari Kemanusiaan Sedunia 2020: #RealLifeHeroes di Garis Terdepan Penanganan COVID-19

Dalam rangka memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia 2020, SEJAJAR menggelar Semidaring untuk menyajikan kisah-kisah yang menginspirasi dari para pekerja kemanusiaan dan #RealLifeHeroes di garis terdepan penanganan COVID-19, yang dengan sepenuh hati memilih untuk membantu dalam keadaan yang paling ekstrim, menunjukkan kemampuan luar biasa untuk bertahan meskipun ada banyak rintangan, dan melakukannya dengan kerendahan hati dan dedikasi dalam bentuk dan kontribusi yang beragam.

Narasumber:
1. Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp. Em., Kepala IGD RS Daha Husada Kediri, Kolaborator LaporCovid19.org, dan Penyintas COVID-19
2. Siti Zulfah, Ketua Posyandu Kadu Parasi Banten & Kader Kesehatan MSF Indonesia
3. Amirul Yasin, Petugas Pemulasaraan Jenazah Korban COVID-19, PMI Kab. Malang
4. Bramantio Bagus Widiatmoko, Liason Office Gunner, PMI Pusat
5. Benni Wijaya, Kepala Departemen Kampanye dan Manajemen Pengetahuan, Konsorsium Pembaruan Agraria
6. Yoso & Sunarto, Inisiator Kelas Mengajar di Radio Komunitas
7. Muhammad Adnan, Kepala Markas PMI Kota Jaksel, Penyintas COVID-19

Penanggap:
Dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D, Pakar Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Moderator:
Titi Moektijasih, UN OCHA

[Live] Memperkuat Jurnalisme Warga di Era Pandemi COVID-19

Semidaring SEJAJAR ke-23: Memperkuat Jurnalisme Warga di Era Pandemi COVID-19

SEJAJAR dan AtmaConnect menggelar Semidaring untuk mencari solusi bersama bagaimana memperkuat jurnalisme warga di masa pandemi COVID-19 karena suara-suara warga yang terekam dalam jurnalisme warga sejatinya adalah bentuk partisipasi publik bagi proses pengambil kebijakan. Tetapi di sisi lain, banyak jurnalis warga yang masih dibayang-bayangi jerat kriminalisasi UU ITE dan besarnya kesenjangan digital di Indonesia membuat praktik jurnalisme warga masih terpusat di daerah-daerah yang infrastruktur internetnya sudah mapan.

Semidaring ini menjadi awal dari rencana training jurnalisme warga bagi OMS-LSM anggota SEJAJAR.

Narasumber:
1. Farid Gaban, Pendiri Yayasan Zamrud Khatulistiwa
2. Sinam Sutarno, Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI)
3. Alfan Kasdar, Atma Connect

Penanggap:
Gilang Desti Parahita, S.I.P., M.A, Dosen Ilmu Komunikasi, Fisipol UGM

Moderator:
Ika Ningtyas, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), SEJAJAR

[Live] Peluang Usaha Bagi Anak Muda Di Masa Pandemi COVID-19

Semidaring SEJAJAR ke-22, Hari Kepemudaan Internasional: Peluang Usaha Bagi Anak Muda Di Masa Pandemi COVID-19

SEJAJAR bersama-sama dengan IJF on EVAC dan Empower Youth for Work (EYW) memandang penting dialog yang intensif dan mendalam dengan menghadirkan serangkaian tindakan dan praktik-praktik baik yang telah dilakukan oleh anak muda dalam berbagai isu pemberdayaan ekonomi guna memastikan bahwa mitigasi, rencana tanggapan dan tindakan penanganan pandemi COVID-19 dapat lebih memberikan ruang partisipasi anak muda baik dalam institusi formal maupun non-formal.
Dengan melibatkan anak muda secara aktif dan partisipatif, serta memberikan ruang bagi peningkatan kapasitasnya.

Pengamat: Kelompok rentan perlu perhatian dalam adaptasi normal baru

Jakarta (ANTARA) – Kelompok rentan perlu menjadi perhatian dalam adaptasi normal baru yang dilakukan untuk hidup di saat pandemi COVID-19 masih berlangsung, kata Dr. Puji Pujiono, MSW dari Sekretariat Jaringan antar-Jaringan OSM/LSM (S=JAJAR).

“Mereka biasanya tidak masuk dalam ekonomi mainstream dan mereka tergantung pada sektor informal dan mereka menjadi anggota dari masyarakat yang secara kolektif kalau terjadi krisis merasakan dampaknya lebih berat dan awal dari yang lainnya,” kata dia dalam diskusi tentang normal baru yang diadakan oleh AJI Indonesia di Jakarta, Rabu.

Ilustrasi – Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, melakukan aksi sosial terhadap warga lansia, difabel dan warga kurang mampu di Desa Banyuseri, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali (1/6/2020), saat pandemi COVID-19 membuat masyarakat semakin susah. ANTARA/Made Adnyana/am.

Kelompok rentan, kata pakar manajemen bencana dari Pujiono Centre itu, seperti orang dari kelompok disabilitas, lansia, yang berbeda orientasi seksualnya, pengungsi bencana alam dan masyarakat dari suku yang tinggal di pedalaman.

Selain itu, masyarakat prasejahtera yang tinggal di dalam lingkungan kumuh itu juga merupakan bagian dari kelompok rentan. Menurut dia, banyak dari mereka yang tidak mampu menjalankan seluruh protokol kesehatan yang diimbau oleh pemerintah, seperti menjaga jarak, karena kondisi tempat tinggal tidak memungkinkan.

Selain itu, masyarakat dari kelompok rentan tersebut biasanya memiliki akses tidak memadai ke layanan sosial, adanya keterbatasan kemampuan untuk beradaptasi dan terbatas atau bahkan tidak mempunyai akses ke teknologi.

“Karena keterbatasan dan keterpinggiran itu mereka juga mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan new normal (normal baru) yang disebutkan pemerintah,” kata dia.

Untuk melindungi mereka dalam adaptasi normal baru, kelompok rentan itu perlu digandeng agar ikut serta dalam perencanaan, pemberlakuan dan evaluasi berbagai langkah yang diambil pemerintah baik pusat maupun daerah sampai ke tingkat desa.

Selain itu, perlu diperluas akses terhadap proses dan layanan publik untuk anggota kelompok tersebut, kata Puji.

Sumber: Antaranews.com