June 7, 2017
Kemensos Butuh 25 Ribu Pekerja Sosial Sampai 2019
Narasumber dan peserta diskusi pekerjaan sosial dan penanggulangan bencana pada 2 Juni 2017.

Senin , 05 Juni 2017, 16:37 WIB
Kemensos Butuh 25 Ribu Pekerja Sosial Sampai 2019
Red: Ichsan Emrald Alamsyah, Antara/Lucky R

Petugas Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kota Tangerang membantu mengevakuasi warga korban banjir di perumahan Total Persada, Tangerang, Banten, Senin (14/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Sosial (Kemensos) mendorong adanya sertifikasi bagi pekerja sosial dalam penanggulangan bencana. Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos, Harry Hikmat menjelaskan, peningkatan kemampuan pekerja sosial sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas bantuan sosial dan pemulihan psikososial masyarakat yang terpapar bencana. Untuk itu, kata dia, harus ada sertifikasi bagi pekerja sosial dan relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana).

Pak Harry Hikmat, Kemensos memaparkan ttg kebijakan perlindungan dan jaminan sosial

Pak Harry Hikmat, Kemensos memaparkan ttg kebijakan perlindungan dan jaminan sosial


“Kemampuan dan ketangkasan para pekerja sosial mesti ditingkatkan untuk menjawab perkembangan permasalahan sosial di masyarakat. Kita mesti mengikuti perkembangan  pendekatan, metode dan teknik teknik dalam menyelesaikan masalah sosial berbasis ilmu pekerjaan sosial, tidak bisa menggunakan cara cara konvensional,” ujar Harry di Pujiono Learning Centre, Yogyakarta, dalam siaran pers kepada Republika, Senin (5/6).

Harry mengaku akan menggandeng Pujiono Learning Centre dalam meningkatkan kemampuan pekerja sosial dan Tagana di seluruh Indonesia. Kerja sama itu berupa  peningkatan standar kompetensi pekerja sosial dan relawan sosial dalam penanggulangan bencana, termasuk membangun sistem sertifikasi serta lisensi praktik pekerjaan sosial dalam penanggulangan bencana.

“Jika semua terlaksana dengan baik maka pemerintah akan mempunyai pekerja sosial yang mempunyai spesialisasi penanganan korban bencana disamping masalah sosial lainnya,” ujar Harry.

Saat ini, Program Studi Pekerjaan Sosial dengan Kebencanaan sudah ada di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, yang memasuki tahun kedua. Menurut Harry, Indonesia sebagai negara yang rawan akan bencana tentunya membutuhkan kehadiran pekerja sosial yang sangat tanggap. Tercatat pada 2016,  sebanyak lebih 1,3 juta korban bencana alam yang membutuhkan layanan dukungan psikososial.

“Kita butuh percepatan peningkatan kompetensi pekerja sosial. Paling tidak satu kabupaten/kota ada 50 Pekerja Sosial Ahli Penanggulangan Bencana, sehingga butuh sekitar 25 ribu pekerja sosial sampai tahun 2019,” kata Harry.

Selain meningkatkan kemampuan pekerja sosial, Kemensos juga akan terus berupaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk ikut terlibat aktif dalam menangani masalah sosial dilingkungan mereka, seperti pembentukan Kampung Siaga Bencana. “Peran aktif masyarakat seperti Tagana yang telah menjadi andalan pemerintah dalam penanggulangan bencana dan pekerja sosial akan hadir bersama Tagana dalam menyelesaikan persoalan secara cepat dan profesional,” ujar Harry.

Sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/06/05/or2ir5349-kemensos-butuh-25-ribu-pekerja-sosial-sampai-2019